Training of trainer MPKSDI PDM Klaten
Baitul Arqam adalah salah satu
perkaderan formal utama di Persyarikatan Muhamamadiyah yang merupakan
modifikasi dan menyederhanaan dari Darul Arqam. Baitul Arqam merupakan
pelatihan perkaderan formal yang dilaksanakan ditingkat ranting, cabang, daerah
dan amal usaha Muhammadiyah. Baitul arqam memiliki tujuan sebagai sarana untuk
meneguhkan ideologi persyarikatan, membentuk militansi kader dan penguatan SDM
kader persyarikatan, serta memiliki peran penting dalam mencetak kader
persyarikatan yang berakhlak mulia, kompeten dan siap menerima tampuk pimpinan
persyarikatan.
Pengelolaan Baitul Arqam yang
baik dan terstruktur menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mencapai
tujuan tersebut. Oleh karena itu Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani
(MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Klaten menyelenggarakan Training of Trainer (ToT) yang dilaksanakan selama 2 hari
1 malam, 11-12 Januari 2025 bertempat di Balai Pengembangan Mutu Pendidikan
(BPMP) D.I Yogyakarta di ikuti 50 peserta dari MPKSDI sekabupaten Klaten.
Penyelenggaran Training of
Trainer (ToT) bertujuan untuk membentuk korps instruktur yang handal dan siap
melaksanakan program perkaderan di tingkat cabang maupun ranting Muhammadiyah.
Salah satu topik utama dalam ToT ini adalah Baitul Arqam. Dalam ToT ini ada 5
pembahasan, yaitu :
1.
urgensi
perkaderan formal di cabang dan ranting
Tema ini
disampaikan oleh ketua MPKSDI PDM Klaten, Suyono menjelaskan kader Muhammadiyah
harus memiliki integritas, kompetensi dan semangat yang tinggi. Kader
Muhammadiyah diharapkan memiliki kecerdasan sosial, inisiatif dan
produktivitas. Beliau juga menyebutkan 6 tipe kader Muhammadiyah, yaitu :
a.
Kader
biologis yaitu orang yang lahur dari keluarga Muhammadiyah.
b.
Kader
ideologis dan aktivis, yaitu orang-orang yang berMuhammadiyah karena sejak lama
ikut dalam kegiatan dan Pendidikan kader Muhammadiyah. Hal ini ditandai dengan
bergabung dalam struktur organisasi Muhammadiyah mulai daro ortom hingga
majelis. Kader inilah yang mampu menggerakkan roda persyarikatan.
c.
Kader
simpatik, yaitu orang yang menyukai kegiatan Muhammadiyah tapi belum mengenal
Muhammadiyah secara mendalam. Inilah kader potensial agar dapat menjadi kader
ideologis dan aktivis. Termasuk para pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah.
d.
Kader
artisan/numpang tenar, ini orang yang mengaku dan bang berMuhammadiyah karena
merasa memiliki kepandaian intelektual yang baik sehingga dapat menangkap
pergerakan Muhammadiyah yang dianggap realistis. Tetapi diajak berjuang
membesarkan persyarikatan banyak argument untuk menghindar.
e.
Kader
honoris, yaitu orang yang berMuhammadiyah karena bekerja di AUM tapi tidak mau
bergabung dalam kegiatan dan struktur organisasi Muhammadiyah.
f.
Kader
penghianat, yaitu mereka orang-orang yang berangkat dari kader honoris di
lembaga pendidikan Muhammadiyah, tapi setelah sertifikasi dan menjadi ASN
berbalik tidak suka pada Muhammadiyah.
Ada 2 jenis perkaderan Muhammadiyah antara
lain, pertama perkaderan utama/formal yaitu Darul Arqam untuk pimpinan
pusat dan pimpinan wilayah Muhammadiyah dan Baitul Arqam untuk pimpinan daerah,
cabang, ranting dan amal usaha Muhammadiyah. Kedua perkaderan fungsional
berbasis lokalitas misalnya Baitul arqam jamaah masjid, komunitas.
Ada beberapa yang
harus terlibat dalam baitul arqam diantaranya penyelenggara, intruktur,
pelaksana, dan peserta. Adapun tahapan-tahapan baitul arqam, pertama
adalah perencanaan (silabus, goal, term of reference, scheduling,
estimating, personal maping), kedua Pelaksanaan (Screning¸tim
instruktur, managemen kelas, instrument), ketiga Evaluating
(pretest-postest, feedback). Di akhir pembahasan ia menyampaikan tugas
instruktur yaitu mengelola dan memastikan pelaksanaan baitul arqam berjalan
lancar serta bertanggungjawab secara penuh tentang berlangsungnya kegiatan
baitul arqam.
2.
Praktik
keinstrukturan
Dalam materi ini, MoT membagi peserta menjadi 7
kelompok, masing-masing kelompok terdiri 7 peserta. Tugas yang diberikan kepada
peserta adalah praktik menjadi intruktur baitul arqam. Setiap peserta ada yang
berperan sebagai MoT (Master of Training), Sekretaris MoT, IoT (Imam
of Training), Fasilitator, MoG (Master of Game), pengendali mutu dan
evaluator serta tim data dan dokumentasi. Setelah dibagi mereka praktik
memerankan sesuai tugas masing-masing. Di Akhir praktik ditutup dengan evaluasi
praktik keinstrukturan yang dipimpin oleh MoT.
3.
Ragam
game ice breaking dan outbond
Pada materi ini peserta
dipimpin oleh MoG, Tri Yulianto. Peserta secara kelompok berkreasi model game
yang akan dipraktikan secara langsung di depan 50 peserta ToT. Ini menjadi
materi yang menarik, seru, semua peserta semangat dan bergembira bersama.
4.
Coaching
pendampingan perencanaan kegiatan Baitul Arqam di cabang dan ranting
Edy
Noviyanto, sebagai intruktur pada tema Coaching pendampingan perencanaan
kegiatan Baitul Arqam di cabang dan ranting.
5.
Praktik
desain Baitul Arqan dan RTL
Setelah mengikuti pelatihan
ini diharapkan setiap anggota MPKSDI mampu mengelola Baitul Arqam di ranting,
cabang maupun amal usaha.


Tidak ada komentar: