Hujan mewujudkan karya
Gerombolan air hujan
terdengar sayup – sayup, kotak kecil bernyanyi memberi sinyal pungkas malam
telah tiba, pangeran ghaib mengikat erat qalbu. Balutan kain lurik membuat Han
semakin berat untuk melawan dinginya sergapan angin malam. Dengan iman lepaslah
ikatan erat pangeran ghaib dan Han segera melangkahkan kedua kakinya menuju
pancuran air di belakang rumahnya. Kemercik air suci begitu dingin terasa di
pori – pori kulit.
“Brrr… mantab sekali rasanya”, Ucap Han dalam hati.
Selembar kain di raihnya
untuk mengusap sisa – sisa air di tubuhnya. Han segera berputar 180 derajat
menuju ruang depan. Berdiri di atas alas berukuran 60 x 120 cm Han dengan
kusyu’ memulai gerakan demi gerakan untuk menghadap kepada’Nya hingga sampailah
gerakan terakhir. Asma ALLAH ia sebut satu persatu melalui sentuhan ibu jari
pada rangkaian biji - biji kecil. Di kesunyian pungkas malam isi hati
serta impian ia sebut di dalam sebuah harapan. Panggilan ALLAH berkumanjang
menandakan terbitlah fajar. Han segera menunaikan kewajiban sebagai umat
islam.
Suara percikan air hujan di
luar rumahnya pun masih termonitor oleh makluk dunia, hembusan angin fajar itu
pun membuat bibir bergemetar. Getaran perangkat touchscreen membuat Han risih,
di ambillah perangkat touchscreen tersebut. Dengan lihainya Han memainkan layar
touchscreennya pesan demi pesan ia baca hingga Han menemukan artikel yang
membuat Han lebih berkarakter. Artikel itu bersumber dari kitab ALLAH dan
Hadits yang bersifat memotivasi seorang leader. Seusai menghayati
artikel, Han meletakan perangkat touchscreennya di sebuah meja kecil di
depanya. Han teringat akan karyanya yang belum ia selesaikan, di ambilah
portable computer miliknya. Kedua mata Han tepapang jelas di depan layar
berukuran 14 Inchi. Dengan kelincahan sepuluh jari tanganya membuat karya Han
selesai waktu itu juga.
“Alhamdulillah.. akhirnya
selesai karyaku ini” ucap Han dengan perasaan senang.
Tidak lama kemudian Han
meninggalkan ruang depan. Emang mula hari itu hujan belum menampakan tanda
usainya. Han memang biasa mengawali aktivitas dengan serangkaian amalan sunnah
di waktu dhuha. Doa yang ia panjatkan pun tak lepas dari sebaris impian.
Kemudahan, kelancaran, kesehatan tak lupa ia sebut dalam sebuah percakapan
dengan Sang Pencipta. Animasi dinding menunjukan sudut 240 derajat rintik air
hujan pun masih membasahi keindahan mata melihat. Han tampak gelisah
(geli – geli basah) hehe…
“hujaaaan…. kenapa kau tak
kunjung reda,”
Arloji ruang sebelah mencapai
tiga perempat bagian, intensitas rintik hujan seperti sebelumnya. Han
menyiapkan kuda besi dan segera meninggalkan teras rumahnya. Sekitar 1000
langkah Han sampai di bangunan tua belakang rumah sakit muhammadiyah. Di kala
ia memasuki ruang atas, para semut – semut putih menyambutnya dengan antusias
untuk berjabat tangan.
“Assalamu ‘alaikum
warrahmatullahi wabarakatuuh” ucap Han dengan sebuah senyum manis
“Wa ‘alaikumsalam
warrahmatullahi wabarakatuuh” jawab semut – semut putih sambil mengeluarkan kitab.
Hingga tiba saatnya Han
meninggalkan lantai bangunan tua tersebut. Tampaklah bayangan Han di sisi
sebelah kanan. Kedua kaki Han secara bergantian berpindah injakan hingga
sampailah tempat yang ia tuju, sebuah bangunan megah nan indah berseri - seri.
Tiada bahana kecuali lantunan firman ALLAH yang tersiar di dalam bangunan itu.
Berdiri di atas permadani hijau rangkaian amalan wajib ia kerjakan di baris
nomor 4 dari depan. Sungguh berlebihan barisan serangkaian amalan itu. Setiap
barisnya berkisaran 20 hingga 24 kaki. Di belakang Han pun tersisa 2 baris
sebagai makmum masbuq. Memang letaknya yang strategis dan parkir luas
memudahkan para musafir untuk menunaikan seruan ALLAH. Sengatan nur terasa saat
itu membuat Han tak kuat menahan dahaga.
“Panasnya minta ampun deh” kata han kepada
sesamanya,
“iyaah ya.. Es kelapa muda
enak nih, cari yukk”, jawab sesamanya,
Layar touchscreen ia genggam
dari saku celana jeansnya, ratusan inbox tampak membuat Han sedikit tersentak.
Han segera menunggangi kuda besinya 70km/jam. Setiap traffict light menyala
merah Han selalu melirikan kedua mata pada gelang digital di tangan kananya.
Saat itu memang Han buru – buru. Kuda besi ia tempatkan di sebelah timur
bangunan kecil, Han segera berlari ke atas menemui beberapa ikhwan. Perasaan
kalang kabut masih menyelimuti qalbu Han. Hati dag dig dug der terasa sekali
saat sedikit ikhwan menanyai sebuah pertanyaan. Han nampak bingung harus
menjawab apa, tidak sesuai dugaan Ikhwan ini menanyakan pertanyaan seperti itu.
Terdiamlah Han saat itu.. suasana menjadi sunyi tanpa sedikit bahana. Lalu apa
pertanyaan itu..??
“Kapan koe rabi??” (“kapan kamu
nikah?”) Ucap
sedikit Ikhwan
Sontak Han berfikir sejenak
“hmm…” (sambil memandang atap
putih ruang atas)
Belum sempat menjawab pun
terdengar derasnya hujan yang di sertai angin sepoi – sepoi merubah suasana di
dalam ruang atas yang tadinya bercahaya pun menjadi sedikit dingin. Han membuka
layar touchscreen ternyata memang sore itu prakiraan cuaca yang mengalami
perubahan, informasi tersebut ia dapat dari sebuah pesan di perangkat
touchscreen miliknya. Gelang digital di kanan tangan Han tercetak animasi 16.50
menunjukan bahwa waktu sudah sore. Hujan belum berakhir, Han kembali membuka
layar touchscreen sambil menanti hujan kembali semula. Seribu dua ratus detik
kemudian tepatnya dua puluh lima menit sebelum seruan umat muslim berkumandang
rintik hujan hanya meninggalkan sisa. Han dengan kuda besi menjauhi timur
bangunan kecil. Selama perjalanan ia menikmati keindahan kota bersinar yang
memulai menampakan gerlap – gerlip warna lampu kota. Saat ia henti di bawah
lampu traffict light ia merasakan rintik hujan semakin kompak berjatuhan.
Setiba di teras depan rumahnya, Han melepas raincoat dan perangkat lainya. Rasa
lelah menyelimuti tubuh Han namun itu tidak melemahkan motivasinya. Han
berkeinginan untuk berkarya, ia ingin terus Learning and Practice. Portable
computer selalu setia menemani Han untuk mewujudkan karyanya. Kendatipun belum
seindah mawar merah namun Han masih bergelora membuat karyanya menjadi
inspirasi bagi sesama.
Orientasi dakwah menjadikan
Han lebih optimis mewujudkan karyanya sebagai media amar maruf nahi mungkar.
Apalagi generasi sekarang ini bermacam karakter, sangat diperlukan perhatian
khusus. Itulah yang membuat qalbu Han iba ketika menyaksikan generasi sekarang.
“tik… tik... tik… tikk...”, Suara animasi dinding
berputar 360 derajat. Jarum menunjukan tiga perempat bagian.
“tangan, mata, pikiran lelah
semua, tak terasa sudah waktunya terlelap, tetap bergelora mewujudkan karya
yang inspiratif dan bermanfaat.hahahaha,” kata Han sambil tertawa lelah.
Waktu trus berputar, dan
tidak akan kembali..
“ternyata cukup singkat ya,
waktu 86,400 detik itu”, tutur Han kepada salah satu ikhwan,
Akhirnya Han men-shut down
portable computernya untuk segera meninggalkan meja hijau. Telapak kaki Han
berputar arah menunjukan pukul 03.00 dan tergeletaklah tubuh Han di lautan
mimpi. Layar touchscreen kembali ia mainkan sebagai bekal menggapai mimpi. Lima
belas menit sebelum jarum jam menunjukan pukul 22.59 menit, Han telah ta
sadarkan diri untuk memulai peristirahatanya. (dhoc)


Tidak ada komentar: