Hujan mewujudkan karya

Desember 25, 2017

 Gerombolan  air hujan terdengar sayup – sayup, kotak kecil bernyanyi memberi sinyal pungkas malam telah tiba, pangeran ghaib mengikat erat qalbu. Balutan kain lurik membuat Han semakin berat untuk melawan dinginya sergapan angin malam. Dengan iman lepaslah ikatan erat pangeran ghaib dan Han segera melangkahkan kedua kakinya menuju pancuran air di belakang rumahnya. Kemercik air suci begitu dingin terasa di pori – pori kulit.

“Brrr… mantab sekali rasanya”, Ucap Han dalam hati.

Selembar kain di raihnya untuk mengusap sisa – sisa air di tubuhnya. Han segera berputar 180 derajat menuju ruang depan. Berdiri di atas alas berukuran 60 x 120 cm Han dengan kusyu’ memulai gerakan demi gerakan untuk menghadap kepada’Nya hingga sampailah gerakan terakhir. Asma ALLAH ia sebut satu persatu melalui sentuhan ibu jari pada rangkaian biji -  biji kecil. Di kesunyian pungkas malam isi hati serta impian ia sebut di dalam sebuah harapan. Panggilan ALLAH berkumanjang menandakan terbitlah fajar. Han segera menunaikan kewajiban sebagai umat islam. 




Suara percikan air hujan di luar rumahnya pun masih termonitor oleh makluk dunia, hembusan angin fajar itu pun membuat bibir bergemetar. Getaran perangkat touchscreen membuat Han risih, di ambillah perangkat touchscreen tersebut. Dengan lihainya Han memainkan layar touchscreennya pesan demi pesan ia baca hingga Han menemukan artikel yang membuat Han lebih berkarakter. Artikel itu bersumber dari kitab ALLAH dan Hadits yang bersifat memotivasi seorang leader.  Seusai menghayati artikel, Han meletakan perangkat touchscreennya di sebuah meja kecil di depanya. Han teringat akan karyanya yang belum ia selesaikan, di ambilah portable computer miliknya. Kedua mata Han tepapang jelas di depan layar berukuran 14 Inchi. Dengan kelincahan sepuluh jari tanganya membuat karya Han selesai waktu itu juga.

“Alhamdulillah.. akhirnya selesai karyaku ini” ucap Han dengan perasaan senang.

Tidak lama kemudian Han meninggalkan ruang depan. Emang mula hari itu hujan belum menampakan tanda usainya. Han memang biasa mengawali aktivitas dengan serangkaian amalan sunnah di waktu dhuha. Doa yang ia panjatkan pun tak lepas dari sebaris impian. Kemudahan, kelancaran, kesehatan tak lupa ia sebut dalam sebuah percakapan dengan Sang Pencipta. Animasi dinding menunjukan sudut 240 derajat rintik air hujan  pun masih membasahi keindahan mata melihat. Han tampak gelisah (geli – geli basah) hehe…

“hujaaaan…. kenapa kau tak kunjung reda,”

Arloji ruang sebelah mencapai tiga perempat bagian, intensitas rintik hujan seperti sebelumnya. Han menyiapkan kuda besi dan segera meninggalkan teras rumahnya. Sekitar 1000 langkah Han sampai di bangunan tua belakang rumah sakit muhammadiyah. Di kala ia memasuki ruang atas, para semut – semut putih menyambutnya dengan antusias untuk berjabat tangan.

“Assalamu ‘alaikum warrahmatullahi wabarakatuuh” ucap Han dengan sebuah senyum manis

“Wa ‘alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuuh” jawab semut – semut putih sambil mengeluarkan kitab.

Hingga tiba saatnya Han meninggalkan lantai bangunan tua tersebut. Tampaklah bayangan Han di sisi sebelah kanan. Kedua kaki Han secara bergantian berpindah injakan hingga sampailah tempat yang ia tuju, sebuah bangunan megah nan indah berseri - seri. Tiada bahana kecuali lantunan firman ALLAH yang tersiar di dalam bangunan itu. Berdiri di atas permadani hijau rangkaian amalan wajib ia kerjakan di baris nomor 4 dari depan. Sungguh berlebihan barisan serangkaian amalan itu. Setiap barisnya berkisaran 20 hingga 24 kaki. Di belakang Han pun tersisa 2 baris sebagai makmum masbuq. Memang letaknya yang strategis dan parkir luas memudahkan para musafir untuk menunaikan seruan ALLAH. Sengatan nur terasa saat itu membuat Han tak kuat menahan dahaga.

“Panasnya minta ampun deh” kata han kepada sesamanya,

“iyaah ya.. Es kelapa muda enak nih, cari yukk”, jawab sesamanya,

Layar touchscreen ia genggam dari saku celana jeansnya, ratusan inbox tampak membuat Han sedikit tersentak. Han segera menunggangi kuda besinya 70km/jam. Setiap traffict light menyala merah Han selalu melirikan kedua mata pada gelang digital di tangan kananya. Saat itu memang Han buru – buru. Kuda besi ia tempatkan di sebelah timur bangunan kecil, Han segera berlari ke atas menemui beberapa ikhwan. Perasaan kalang kabut masih menyelimuti qalbu Han. Hati dag dig dug der terasa sekali saat sedikit ikhwan menanyai sebuah pertanyaan. Han nampak bingung harus menjawab apa, tidak sesuai dugaan Ikhwan ini menanyakan pertanyaan seperti itu. Terdiamlah Han saat itu.. suasana menjadi sunyi tanpa sedikit bahana. Lalu apa pertanyaan itu..??

“Kapan koe rabi??” (“kapan kamu nikah?”) Ucap sedikit Ikhwan

Sontak Han berfikir sejenak

“hmm…” (sambil memandang atap putih ruang atas)

Belum sempat menjawab pun terdengar derasnya hujan yang di sertai angin sepoi – sepoi merubah suasana di dalam ruang atas yang tadinya bercahaya pun menjadi sedikit dingin. Han membuka layar touchscreen ternyata memang sore itu prakiraan cuaca yang mengalami perubahan, informasi tersebut ia dapat dari sebuah pesan di perangkat touchscreen miliknya. Gelang digital di kanan tangan Han tercetak animasi 16.50 menunjukan bahwa waktu sudah sore. Hujan belum berakhir, Han kembali membuka layar touchscreen sambil menanti hujan kembali semula. Seribu dua ratus detik kemudian tepatnya dua puluh lima menit sebelum seruan umat muslim berkumandang rintik hujan hanya meninggalkan sisa. Han dengan kuda besi menjauhi timur bangunan kecil. Selama perjalanan ia menikmati keindahan kota bersinar yang memulai menampakan gerlap – gerlip warna lampu kota. Saat ia henti di bawah lampu traffict light ia merasakan rintik hujan semakin kompak berjatuhan. Setiba di teras depan rumahnya, Han melepas raincoat dan perangkat lainya. Rasa lelah menyelimuti tubuh Han namun itu tidak melemahkan motivasinya. Han berkeinginan untuk berkarya, ia ingin terus Learning and Practice. Portable computer selalu setia menemani Han untuk mewujudkan karyanya. Kendatipun belum seindah mawar merah namun Han masih bergelora membuat karyanya menjadi inspirasi bagi sesama.



Orientasi dakwah menjadikan Han lebih optimis mewujudkan karyanya sebagai media amar maruf nahi mungkar. Apalagi generasi sekarang ini bermacam karakter, sangat diperlukan perhatian khusus. Itulah yang membuat qalbu Han iba ketika menyaksikan generasi sekarang.

“tik… tik... tik… tikk...”, Suara animasi dinding berputar 360 derajat. Jarum menunjukan tiga perempat bagian.

“tangan, mata, pikiran lelah semua, tak terasa sudah waktunya terlelap, tetap bergelora mewujudkan karya yang inspiratif dan bermanfaat.hahahaha,” kata Han sambil tertawa lelah.
Waktu trus berputar, dan tidak akan kembali..

“ternyata cukup singkat ya, waktu 86,400 detik itu”, tutur Han kepada salah satu ikhwan,


Akhirnya Han men-shut down portable computernya untuk segera meninggalkan meja hijau. Telapak kaki Han berputar arah menunjukan pukul 03.00 dan tergeletaklah tubuh Han di lautan mimpi. Layar touchscreen kembali ia mainkan sebagai bekal menggapai mimpi. Lima belas menit sebelum jarum jam menunjukan pukul 22.59 menit, Han telah ta sadarkan diri untuk memulai peristirahatanya. (dhoc)

Tidak ada komentar:

PandesIT. Diberdayakan oleh Blogger.